Antisipasi Krisis Iklim, Pengusaha Kopi di Jateng Gunakan Mesin Pengering Tenaga Surya

Antisipasi Krisis Iklim, Pengusaha Kopi di Jateng Gunakan Mesin Pengering Tenaga Surya

upah.co.id – Permasalahan iklim berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk cara yang sering terabaikan namun berharga, yakni memulai hari dengan secangkir kopi .

Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, tetapi krisis iklim telah meningkatkan curah hujan dan banjir di negara ini hingga merusak produksi kopi dan penghidupan petani skala kecil yang menguasai 90 persen tanaman kopi .

Oleh karena itu, salah satu perkebunan kecil bernama Lady Farmer Coffee menggunakan energi terbarukan seperti energi yang dihasilkan dari sinar matahari untuk mengoperasikan mesin pengering kopi mereka.

Mereka mampu menjaga kualitas dan cita rasa kopi Indonesia sekaligus mendorong dan memberdayakan lebih banyak petani untuk menjalani bisnis ini. Sehingga, petani dapat menyesuaikan diri dengan masalah krisis iklim sambil juga mengurangi emisi dari penggunaan energi mereka.

“Energi surya tidak diragukan lagi merupakan keunikan bagi kami. Energi terbarukan masih relatif tidak dikenal di Amerika Serikat. Panel surya inovatif dan teknologi pengering yang saat ini kami adopsi dapat membantu kami menunjukkan bahwa wanita dapat bersaing dalam bisnis ini,” kata Wiwi selaku founder bisnis kopi tersebut sebagaimana dilansir Pikiran-Rakyat.com dari laman Greenpeace pada Sabtu, 25 Februari 2023.

Diketahui, Wiwi dan dua wanita lainnya mendirikan perkebunan di Karangkobar, Jawa Tengah pada tahun 2016, dengan tujuan menghasilkan kopi berkualitas yang dapat bersaing dengan perusahaan kopi lainnya.

“Lady Farmer hadir karena kami ingin mendorong perempuan di komunitas ini untuk menjadi petani,” ucap Wiwi, menjelaskan.

Selain itu, perkebunan yang dikembangkan Wiwi saat ini memiliki 273 pohon kopi jenis Sigarar Utang, semuanya dioperasikan oleh wanita yang bertanggung jawab penuh atas proses produksi kopi , mulai dari penanaman hingga pasca panen, penyangraian biji, dan pengemasan untuk dijual.

Kemudian, selain kesulitan menjalankan usaha pertanian, mereka juga harus berhadapan dengan dampak perubahan iklim. Tanaman kopi dan produksi kopi rentan terhadap perubahan iklim, dan penelitian mengungkapkan bahwa perubahan iklim meningkatkan curah hujan di Jawa sebesar 1.472 mm per tahun.

Sementara itu, tanaman kopi dapat berfungsi sebagai penyangga untuk menghindari tanah longsor di lokasi hujan. Namun, hujan pun tetap dapat menimbulkan efek berbahaya pada pohon dan bijinya.

“Pohon kopi membutuhkan air hujan karena mengandung bahan kimia tertentu yang bermanfaat bagi pertumbuhannya. Tapi, jika curah hujan berlebihan, pohon kopi pun akan musnah. Hujan akan merusak bunga yang mekar, dan rasa manis pada bunga akan berkurang nantinya pada biji,” tutur Wiwi, menerangkan.

Hujan juga dapat berdampak pada proses pengeringan dan kualitas biji. Kurangnya sinar matahari dan panas dapat menyebabkan perubahan rasa atau menyebabkan biji melakukan proses fermentasi sendiri hingga menjadi berjamur. Selain itu, kenaikan biaya listrik di Indonesia berdampak signifikan pada usaha kecil seperti Lady Farmer Coffee karena subsidi listrik hanya tersedia untuk penggunaan non-komersial.

Bisnis tersebut membuat inovasi dengan menjadikan energi matahari untuk menjalankan proses pengeringan biji kopi melalui solar dryer . Panel surya tersebut dibangun dengan bantuan gerakan keberagaman atau gotong royong. Salah satunya bantuan dari Greenpeace Indonesia sebagai upaya mendorong penggunaan energi terbarukan untuk beradaptasi dan mengurangi dampak perubahan iklim.

Menurut penelitian Soriano dan Aguirre, penggunaan solar dryer yang menggunakan energi terbarukan dapat memangkas waktu pengeringan biji hingga 40 persen dan biaya hingga 35 persen. Hal ini memungkinkan petani kopi untuk memastikan keseragaman dalam pengeringan dan konsistensi dalam kualitas biji sambil tetap menghasilkan keuntungan walaupun terlepas dari ketidakpastian cuaca di daerah tersebut.

Energi terbarukan terbukti menjadi sumber pemberdayaan ekonomi dan kewanitaan di Jawa Tengah bagi bisnis kopi tersebut.

“Ini yang pertama bagi kami, dan kami sangat ingin belajar bersama yang lain. Kami sangat berterima kasih,” ucap Wiwi, menambahkan.

Demikian potret pebisnis kopi yang menggunakan energi terbarukan melalui solar dryer . Tentu, ini menjadi inspirasi dan dapat ditiru oleh pebisnis kopi lainnya yang ada di dunia, khususnya di Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *